Iran Tegas Buka Selat Hormuz, Kecuali Untuk Armada Amerika dan Israel

Ketegangan militer di Timur Tengah semakin memuncak, menyebabkan Teheran merespon dengan kebijakan baru yang berdampak pada lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Berada di pusat konflik, Selat Hormuz menjadi sorotan dunia.
Mengurai Kebijakan Baru Iran
Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, pada Minggu, 15 Maret 2026, mengumumkan kebijakan terbaru terkait jalur perairan penting tersebut. Menurut pernyataannya, Selat Hormuz tetap menjadi jalur terbuka bagi perdagangan internasional, namun ada pengecualian untuk armada militer Amerika Serikat, Israel, dan sekutu yang mendukung mereka.
Implikasi dari Konflik Bersenjata
Kebijakan embargo jalur maritim ini bukan tanpa alasan. Konflik bersenjata yang memuncak pada Sabtu, 28 Februari 2026, menjadi pemicu utama. Saat itu, Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan yang memicu balasan dari Teheran ke beberapa pangkalan militer Amerika.
Araghchi memperjelas bahwa Iran tidak memblokir total Selat Hormuz, jalur yang menyumbang 20 persen distribusi minyak dan gas dunia. Kapal-kapal kargo dan tanker dari negara-negara netral masih diperbolehkan beroperasi tanpa hambatan.
Perusahaan-perusahaan ekspedisi yang menunda jadwal pelayaran mereka, menurut Araghchi, bukan akibat pelarangan Iran. Sebaliknya, penundaan tersebut murni karena kekhawatiran operator sendiri mengenai faktor keamanan kawasan.
Posisi Iran Terkait Selat Hormuz
“Selat Hormuz tetap terbuka. Hanya ada pengecualian untuk kapal tanker dan kapal milik musuh kami, bagi mereka yang menyerang kami dan sekutu mereka. Sisanya bebas melewati,” tegas Araghchi, merujuk pada situasi di lapangan.
Reaksi dari Presiden AS, Donald Trump
Kebijakan Iran ini mendapatkan reaksi langsung dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump mengungkapkan rencananya untuk mengirim armada kapal perang untuk mengamankan Selat Hormuz.
Trump juga mendesak negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan energi dari jalur tersebut, seperti China, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Prancis, untuk segera menyiagakan kapal militer mereka di kawasan tersebut untuk melawan pengaruh Teheran.
Isu Liar Terkait Kesehatan Pemimpin Tertinggi Iran
Di tengah diskusi tentang krisis maritim, Araghchi juga menanggapi isu liar seputar kesehatan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Diplomat utama Iran tersebut menepis rumor yang beredar di media Barat tentang kondisi kritis sang pemimpin, dan menegaskan bahwa Mojtaba Khamenei masih menjalankan tugas konstitusionalnya secara normal dengan roda pemerintahan yang beroperasi secara stabil.
Konklusi
Situasi di Timur Tengah terus berkembang, dan perubahan kebijakan Iran terhadap Selat Hormuz tentunya akan membawa konsekuensi global. Bagaimanapun, penting bagi semua pihak untuk menjaga komunikasi dan negosiasi, demi menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.